Tempat-Tempat Ini Sering Dihubungkan Dengan Nama Sebuah Band/Musisi

kertasmusik.com –  Nama-nama musisi seperti Iksan Skuter, Endah N Rhesa, sampai Efek Rumah Kaca, jadi deretan musisi yang mempunyai ide serupa, dengan mendirikan ruang bagi penikmat karyanya, atau menyediakan ruang untuk orang berkarya.

Apa yang terlintas di pikiran kita jika mendengar gang Potlot? Mungkin banyak dari kita tahu jika sebuah kawasan kecil di Jakarta tersebut adalah markas grup band Slank, yang pada akhirnya menjadi ruang publik bagi banyak Slankers dari seluruh Indonesia. Menariknya, para Slankers yang sering nongkrong disana juga pada akhirnya ikut tertular semangat kreatif dari idolanya, hingga tidak sedikit yang kemudian meniti karir sebagai musisi dan sukses, dari mulai grup band Kidnap Katrina dengan vokalisnya Anang Hermansyah, Opie Andaresta, bahkan pentolan Dewa 19 Ahmad Dhani pun pada awalnya sering nongkrong di tempat itu, mengingat dirinya juga adalah perantau dari Surabaya.

Dari Jakarta beralih ke Bandung, untuk kembali memutar waktu pada awal tahun 2010an, saat Rico, gitaris Mocca membuka cafe kecil di jalan Ambon, Bandung, bernama Beat N Bite. Sebuah tempat yang pada akhirnya cukup banyak melahirkan band-band indie Bandung, lewat sebuah sesi acara open mic, yang biasa digelar setiap hari Jumat malam, dengan Anto Arief sebagai host nya. Beberapa kolektif musik yang sempat menjajal sesi open mic disana seperti Teman Sebangku, A.F.F.E.N, Under My Pillow, Katjie & Piering, DeuGalih, sampai Angsa & Serigala menjadi muncul ke permukaan, dan namanya mulai diperhitungkan di ranah musik Bandung, dengan apresiasi yang cukup baik dari penikmat musik di kota yang dikenal kritis akan musik ini.

Sayang umur cafe ini tidak begitu lama, lalu berganti menjadi Safe House, dan pada akhirnya, seperti yang kita kenal sekarang, tempat ini menjadi Rumah The Panas Dalam, dengan Pidi Baiq sebagai magnet utamanya. Untungnya tempat itu jatuh ke tangan Pidi, dan semangat kreatif yang mungkin awalnya menjadi perhatian Rico akan pentingnya regenerasi musisi kota Bandung, mengalami episode baru, yang kali ini datang dari ide-ide liar Pidi Baiq, si seniman serba bisa itu.

Selain Rico dan Pidi Baiq, ada nama-nama musisi seperti Iksan Skuter, Endah N Rhesa, sampai Efek Rumah Kaca, sebagai deretan musisi yang mempunyai ide serupa, dengan mendirikan ruang bagi penikmat karyanya, atau menyediakan ruang untuk orang berkarya. Dari Malang sampai Jakarta, musisi-musisi itu menularkan semangat berkreasi, dengan Iksan Skuter dan Warung Srawung nya, Endah N Rhesa dengan Earhouse nya, sampai Efek Rumah Kaca dengan Kios Ojo Keos, yang belakangan ini cukup ramai diperbincangkan.

Sebuah tempat pada akhirnya diakui atau tidak menjadi diidentikan dengan sesuatu yang spesifik, seperti misalnya di Bandung ada kawasan Ujungberung, yang identik dengan komunitas musik metal, Jalan Purnawarman yang identik dengan komunitas musik grunge/alternative, atau sebuah bar kecil di Jakarta bernama BB’s Cafe, yang identik dengan band-band indie darling Jakarta, yang saat ini namanya sudah besar dan diperhitungkan, dari mulai The Upstairs, Goodnight Electric, The Adams, sampai White Shoes And The Couples Company. Dua hal tersebut menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, ketika sebuah band butuh ruang untuk bisa berekspresi, dan sebuah ruang butuh diisi dengan sebuah kreasi, agar tidak menjadi ruang mati.

Kembali ke deretan musisi yang mendirikan ruang bagi penikmat karyanya, atau menyediakan ruang untuk orang berkarya tersebut, membuat kita akhirnya jadi tahu sesuatu jika dihadapkan pada pertanyaan “apa yang identik dengan Earhouse?”, maka jawabannya adalah Endah N Rhesa, Kios Ojo Keos? Efek Rumah Kaca, dan seterusnya. Ini seperti halnya FX kemang, Jakarta yang menjadi tempat bertemunya para penggemar JKT48 dengan idolanya. Para fans JKT48 ini tahu harus kemana jika ingin bertemu JKT48, pun begitu dengan penggemar Endah N Rhesa atau Efek Rumah Kaca, mereka tentunya tahu harus menemui idolanya dimana, mengingat tempat-tempat yang disebutkan tadi diinisiasi oleh idolanya, dan menjadi markas juga bagi band/musisi tersebut. Penggemarnya bisa menemukan idolanya dengan cukup mudah, namun tentu saja dengan satu catatan, “kalau mereka lagi tidak manggung”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *